Post Top Ad

Sabtu, 02 November 2019

November 02, 2019

Kawah Burung, The Hidden Crater in Pangalengan

kawah burung pangalengan
Foto by Fariz


Sekian lamanya jalan-jalan di Pangalengan akhirnya di tahun ini sempat juga saya melihat Kawah Burung. Kawah Burung ini memang tidak seterkenal seperti Kawah Putih di Ciwidey dan Kawah Ratu di Gunung Tangkuban Parahu. Lokasinya yang jauh dari Kota Bandung juga dan kita harus berjalan di lereng Gunung Windu yang berada di daerah Cibolang. Gunung Windu inilah yang menjadi salah satu sumber mata air panas yang mengalir ke Wisata Pemandian Air Panas Cibolang. Nah, karena lokasi Cibolang ke Kawah Burung tidak jauh maka kali ini saya menyempatkan diri untuk melihat bagaimana dan seperti apa Kawah Burung itu.

kawah burung pangalengan
Foto by Fariz

Ku kira awalnya Kawah Burung bentuknya seperti kawah pada umumnya yang membuat cekungan akibat erupsi gunung. Tapi ada yang berbeda dari Kawah Burung yaitu karakteristiknya yang seperti tebing namun dipenuhi dengan belerang dan asap dari pusat kawah yang menandakan kalau kawah ini masih aktif. Karena rapuh sekali akibat kontur tanah bercampur belerang saya tidak berani untuk mendaki tebing kawah menuju yang tertinggi ini.

kawah burung pangalengan
Foto by Fariz

Kawah Burung ini benar-benar seperti terisolasi oleh hutan dan mengharuskan kita untuk benar-benar masuk ke dalam hutan. Namun untungnya sudah ada jalan-jalan setapak walaupun kadang-kadang jalan itu tertutup oleh akar pohon dan batang pohon yang tumbang menutupi jalan setapak. Untungnya perjalanan menuju Kawah Burung dilakukan saat musim kemarau sehingga akan lebih mudah untuk menuju kawah tersebut karena tidak licin dan berlumpur. Selain itu pemandangan dari atas kawah pun terbilang sangat indah karena kita bisa lihat pemandangan di sekitar Cibolang yang dipenuhi dengan kebun-kebun teh.

Foto by Fariz

Cara ke Kawah Burung sebenarnya tidak sulit, dari pusat Kota Pangalengan dari arah Bandung ada pertigaan yang mengarah ke Situ Cileunca dan Cibolang. Nah ambilah jalur menuju ke Cibolang. Ikuti jalan sampai menuju ke Cibolang Hot Spring, karena satu-satunya jalan terdekat untuk menuju Kawah Burung adalah dengan memasuki area pemandian air panas Cibolang. Mungkin akan lebih baik kalau ke Kawah Burung ini sekalian untuk mencoba hangatnya air panas di Cibolang, karena sayang sekali jika hanya untuk menuju Kawah Burung saja. Dari lokasi wisata Cibolang kamu perlu mendaki kaki gunung untuk bisa sampai ke Kawah Burung. Jaraknya tidak begitu jauh sekitar 750 meter dari lokasi wisata dengan waktu tempuh mendaki sekitar kurang lebih 30 menit maka kamu sudah bisa sampai di Kawah Burung.


Masih banyak hidden treasure yang mungkin belum terjamah manusia di sekitaran Pangalengan salah satunya Kawah Burung ini. Memang Pangalengan ini salah satu lokasi yang sangat indah di selatan Bandung.

Tips ke Kawah Burung

1. Ambilah perjalanan menuju Cibolang Hot Spring dan masuk ke area parkir wisata. Saya rasa untuk ke kawah tersebut akan lebih baik jika sambil mengunjungi area pemandian air panasnya.

2. Pakailah pakaian yang membuat gerak lebih leluasa. Karena pendakian menuju kawah ini cukup banyak melewati daerah yang curam.

3. Tidak perlu terburu-buru karena perjalanan selama pendakian sangat indah.

4. Perhatikan langkah supaya tidak tersandung akar pohon.

5. Siapkan tenaga sebelum menuju kawah.

Minggu, 20 Oktober 2019

Oktober 20, 2019

Berakhir pekan di Situ Gede, Alternatif Wisata dekat Kota Tasikmalaya


Tasikmalaya adalah salah satu daerah di Jawa Barat yang juga memiliki banyak keindahan dan wisata alamnya yang salah satunya adalah Situ Gede. Situ Gede ini merupakan salah satu danau buatan yang berada dekat dengan Kota Tasikmalaya dengan luas sekitar 47 hektar dengan kedalaman air sekitar 6 meter. Sesuai dengan namanya yang mewakilinya yaitu "Gede" danau ini memang terbilang cukup luas bahkan kalau dilihat sekilas seperti lautan yang terdapat pulau di seberangnya. Tidak terlalu jauh juga jaraknya maka dari saya memutuskan untuk jalan-jalan santai di akhir pekan dengan tujuan menghilangkan penat setelah 5 hari bekerja dan memandang komputer selama itu #butuhpiknik.



Situ Gede pun sendiri memiliki peranan penting bagi masyarakat Kota Tasikmalaya yaitu sebagai sumber air untuk mengairi lahan pertanian masyarakat sekitar danau. Selain peran penting tersebut, Situ Gede pun merupakan lokasi wisata rekreasi loh, kamu bahkan bisa menikmati danau ini sambil menaiki perahu. Kalau bertanya apa daya tarik wisata Situ Gede ? jawabannya adalah pulau kecil yang terdapat di tengah danau ini. Berarti tidak heran kalau danau ini dinamakan Situ Gede karena sebuah pulau kecil pun ada di tengahnya yang berarti luas danau ini tidak diragukan lagi.



Bisa dibilang Situ Gede  pas untuk rekreasi keluarga yang tidak jauh dari hiruk pikuknya keramaian Kota Tasikmalaya. Awalnya saya menyangka untuk ke Situ Gede dari Kota Tasikmalaya itu sangat jauh, namun ternyata sangat dekat bahkan tidak sampai 15 menit dengan situasi lalu lintas yang lancar. Tidak sulit untuk menuju Situ Gede ini bahkan bisa dikatakan sangat mudah dan tidak perlu mendaki gunung melewati lembah #nyanyi... bahkan masih bisa dijangkau oleh transportasi lokal maupun online. Untuk mapsnya kamu bisa lihat di bawah ini yah.

Lokasi Situ Gede



Jalan-jalan disini memang terasa enak dan pemandangannya pun bagus. Namun sayangnya ada yang perlu dibenahi, terlebih soal kebersihan. Dimana-mana saya melihat sampah well memang sebelum kemari saya melihat banyak review yang mengeluhkan soal sampah. Seandainya kebersihan disini terjaga mungkin akan lebih cantik lagi pemandangannya.



Tentang pulau kecil di tengah-tengah danau ini. Saya juga penasaran sebenarnya di pulau itu apakah hanya hutan atau ada yang menghuni ya ? duh sayangnya waktu itu sangat singkat di Tasikmalaya maklum traveling pulang pergi jadi waktu pun sangat mepet sehingga tidak banyak yang saya eksplor di lokasi danau ini. Soal fasilitas saya pikir tidak perlu khawatir lagi, sebab kalau memang rekomendasi untuk wisata keluarga  pastinya disini sudah banyak fasilitas di dalamnya sepert toilet atau pun tempat makan bahkan wahana perahu.


Rabu, 16 Oktober 2019

Oktober 16, 2019

Sensasi Naik Kereta Api di Gerbong Paling Terakhir itu Seru !

kereta api
Kereta api Pangandaran di Stasiun Tasikmalaya

Traveling menggunakan transportasi kereta api memang selalu jadi andalan saya selama ini. Praktis, tidak perlu cape karena berkendara, tinggal duduk dan menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Nah, ada satu kebiasaan yang mungkin sering saya lakukan ketika menggunakan kereta api yaitu memesan tiket di kereta paling belakang. Bicara soal kereta dan gerbong sebenarnya saya mengetahui perbedaan antara "kereta" dan "gerbong" secara teknis kereta itu didefinisikan sebagai ruang khusus penumpang di sebuah rangkaian kereta api, sementara gerbong digunakan untuk barang. Tapi saya mengambil istilah yang mungkin ada pada KBBI dan umum didengar di masyarakat yaitu gerbong hehe.

Kalau sedang booking tiket kereta apalagi sekarang tempat duduknya bisa dipilih sendiri jadi saya selalu memilih untuk booking kursi di gerbong paling belakang baik itu perjalanan siang atau malam. Mungkin ada beberapa orang yang "nggak mau" duduk di kereta paling belakang apalagi kalau perjalanan malam udah gitu sepi lagi. Ah sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti sih atau mungkin sudah biasa yak ? hahaha. Alasannya sih banyak kalau disebutkan mengapa saya sering memilih gerbong paling belakang, yaitu karena memang ketersediaan kursinya masih banyak dan yang paling asik itu bisa melihat pemandangan dari belakang. Dari dulu memang hobinya back riding kalau istilah yang digunakan railfans seperti saya ini hehehe.

Ada zamannya dulu paling menghindari back riding ketika kereta api dulunya masih menggunakan aling-aling atau disebut gerbong tambahan yang gunanya untuk menghindari kecelakaan seperti tabrakan di belakang atau anjlokan. Namun sekarang kebijakan penggunaan aling-aling sekarang sudah dicabut lagi dan akhirnya sekarang bisa back riding lagi yeeee!

Ada enaknya dan ada ga enaknya juga memilih gerbong di paling belakang. Enaknya adalah bisa lihat pemandangan rel yang kalau direkam bisa jadi konten menarik dan kalau sedang kosong penumpang rasanya damai banget apalagi waktu itu pernah saya naik kereta api Pangandaran dari Tasikmalaya dan duduk di kereta paling belakang dan seketika terkejut selama perjalanan itu satu gerbong belakang hanya saya seorang! oh jelas ini merdeka sekali hahaha. Ga enaknya kalau sudah tiba di tujuan mau turun ke peron saya harus berjalan dulu ke tengah karena tidak dapat peron dan agak jauh untuk menuju pintu keluar kalau misalnya pintu keluar itu ada di posisi gerbong paling depan. Walaupun sebenarnya ada ga enaknya tapi saya pikir bukan masalah karena selama masih punya kaki untuk melangkah kenapa tidak ? :D

Selain itu pemandangan dari belakang kereta akan tampak lebih seru, saya bisa menikmati pemandangan saat kereta api sedang berbelok. Hmm untuk pemburu konten footage seperti saya ini hal itulah yang bisa jadi sebuah konten nantinya. Selain itu pemandangan rel dari belakang akan lebih jelas terlihat dan seru sekali selama perjalanannya itu. Entah menurut orang sepertinya biasa saja tapi bagi saya ada sensasi tersendiri ketika naik kereta api di gerbong paling belakang.

Selasa, 08 Oktober 2019

Oktober 08, 2019

Pagi Berkabut dari Tebing Keraton, Bandung

pemandangan dari tebing keraton


Pemandangan alam di Bandung itu memang selalu menjadi favorit pengunjung setiap kali berkunjung ke Bandung. Walaupun saya tinggal di kota yang tidak jauh dari Bandung yaitu Cimahi namun kali ini saya ingin mencoba menjadi turis di kota sendiri hehe. Setelah berbagai wacana saya pikirkan akhirnya tibalah untuk merealisasikannya, dari dulu memang saya ingin coba mengunjungi Tebing Keraton di Bandung dan melihat suasana pagi hari berkabut di atasnya. Katanya pemandangan disana saat pagi hari sangat indah dan menyegarkan tentunya.

pemandangan dari tebing keraton


Kali ini saya tidak berangkat dari rumah, untungnya ada kesempatan untuk menginap di salah satu hotel terdekat karena berhubung saat itu sedang ada promo EPIC! jadilah saya mencari hotel yang sekiranya dekat dengan Tebing Keraton karena kalau dari rumah entah jam berapa saya harus memulai perjalanan menuju Tebing Keraton. 

Suasana masih tampak sepi pagi itu di tengah kota. Karena mataharinya terbit pukul 05:30 jadi jika berangkat dari hotel jam 04:30 perkiraan saya bakal sampai tepat sebelum waktu sunrise dimulai. Jadi waktu tempuh yang dibutuhkan dari hotel menuju Tebing Keraton tidak terlalu lama sekitar kurang lebih 20 menit dari Dago tempat saya memulai perjalanan. Perhitungan waktu ini saya pikir akan sangat penting sebab ketika sampai disana tidak akan kepagian dan tidak akan kesiangan dan enaknya tidak perlu tunggu berlama-lama. 

Saya berpikir kalau saya bakal jadi orang pertama yang sampai disana. Namun ekspektasi saya ternyata meleset, ternyata lokasi Tebing Keraton ini sangat terkenal dengan lokasi yang pas untuk menikmati sunrise loh! dan justru pagi itu sudah banyak kerumunan orang yang menunggu sunrise tiba hmm padahal matahari tidak tampak sekali malahan tertutup bukit. Tapi walaupun begitu ternyata pengunjung lebih mencari suasana pagi dengan latar belakang gunung yang berselimut kabut pagi.

pemandangan dari tebing keraton

pemandangan dari tebing keraton

pemandangan dari tebing keraton


Ini nih yang paling sulit kalau misalkan saya kesiangan, di tepi tebing sudah banyak pengunjung dan orang-orang yang ramai berselfie. Jadi telat sedikit maka saya tidak akan mendapatkan momen apapun disini yang dapat hanyalah segerombolan orang-orang. Memang salah satu yang enak buat menikmati seluruh pemandangan dari atas Tebing Keraton ini saat berdiri di balkon tepat berada di ujung tebing ini. Pemandangan pegunungan akan terlihat sangat jelas apalagi kalau dinikmati saat pagi hari.

Suasana pagi pun akan semakin ramai karena memang Tebing Keraton ini menjadi objek wisata sunrise point di Bandung. Jadi tidak heran kalau orang begerombol memenuhi balkon Tebing Keraton seperti foto di bawah ini.



Terkadang untuk menhindari keramaian saya mencoba berdiri di atas menara pantau di Tebing Keraton ini. Untungnya menara ini masih sepi jadi saya bisa melihat pemandangan yang jauh lebih tinggi. Namun sayangnya beberapa posisi terhalang oleh pohon tinggi sehingga membatasi semua view di sekelilingnya.

pemandangan dari tebing keraton

Seperti yang kita tau kalau lokasi Tebing Keraton ini merupakan area Sesar Lembang atau Lembang Fault yang panjangnya bisa sampai ke Gunung Manglayang di Bandung Timur. Lokasi inilah yang selalu dipantau oleh BPBD atau Badang Penanggulangan Bencana Daerah sebagai lokasi rawan bencana. Sebab Sesar Lembang ini masih sangat aktif dan suatu saat bisa saja tanahnya bergerak yang menimbulkan bencana Longsor atau Gempa Bumi akibat dari pergerakkan tanah tersebut.



Tips ke Tebing Keraton

Sekarang ke Tebing Keraton sudah banyak cara yang bisa digunakan. Kamu bisa menggunakan ojek online untuk bisa sampai ke dekat pintu gerbang, tapi kalau menggunakan mobil sayangnya lokasi parkirnya sangat jauh dari pintu masuk Tebing Keraton jadi akan lebih praktis jika menggunakan sepeda motor. Tidak perlu khawatir kesasar saat menuju Tebing Keraton karena lokasinya sudah tertera di Google Maps dan bisa langsung mengikuti jalur sesuai direction awal yang kamu pilih.





Sabtu, 21 September 2019

September 21, 2019

Bersantai Di atas Pasir Putihnya Pulau Tangkil di Lampung !

Pulau Tangkil, Lampung


Setelah sekian lama menanti dan menyusun rencana tibalah saatnya saya menginjakan kaki di Pulau Sumatera. Tujuan pertama adalah Lampung. Katanya disana banyak sekali tempat-tempat yang sangat indah dan tidak jauh dengan keindahan di Indonesia bagian timur. Walaupun perjalanan ini sangatlah singkat namun kurasa sudah cukup untuk menikmati pesona Lampung yang kaya akan pemandangan bahkan hingga mengingatkan saya dengan indahnya pantai berpasir putih di Lombok

Sesampainya di Lampung saya langsung berencana untuk ke Pantai Mutun. Pantai ini benar-benar sangat indah dan enaknya lagi cukup dekat dengan Bandar Lampung. Karakteristik pantai ini bisa dibilang mengingatkan saya saat ke Lombok tahun lalu. Lautnya yang berwarna biru, pasirnya yang putih dan ombaknya yang bersahabat sehingga bisa berenang sepuasnya di pantai ini. Namun sayangnya rencana tidak sesuai ekspektasi, ternyata ada pulau di seberang Pantai Mutun yang jauh lebih indah jika kita bisa menyeberanginya namanya Pulau Tangkil. Pulau Tangkil ini memang benar-benar pulau yang sangat indah, bahkan ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya saya terkagum dengan keindahannya yang mirip dan membawa saya pada kenangan saat di Lombok. Ah sungguh keren!!

pulau tangkil

Hayo, buat kamu yang beach lover pastinya Lampung boleh dong dijadikan sebagai destinasi untuk mantai! Lampung tidak kalah indah pemandangannya dengan Pulau Bali dan Lombok loh. Saya pun sendiri menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati keindahan pulau di seberang Pantai Mutun ini. 

Sebelumnya saat memasuki area Pantai Mutun ini akan dikenakan biaya sekitar 10-20ribu per orangnya. Kalau ingin ke Pulau Tangkil kamu pun bisa menggunakan jasa perahu yang perorangnya sekitar 50ribu untuk perjalanan pulang pergi dari dan ke Pulau Tangkil. Selain itu di Pulau Tangkil kamu bisa saja mencoba Snorkeling, Jetsky, Kano Flaying Fish atau bahkan Parasailing. Wow! atraksinya memang banyak di pulau ini. Namun sayangnya karena waktu saya tidak banyak jadi tidak bisa menikmati berbagai atraksi di pulau ini walaupun sebenarnya ingin sekali mencoba snorkeling di pantai ini. Siapa yang tidak mau snorkeling dengan laut biru dan pasir putih disini ? ah sayang sekali mungkin next time saya harus coba ketika liburnya panjang (berharap sih ga begitu ramai) hehehe.

Memandangi lautan yang biru dengan pemandangan hijaunya bebukitan dan menginjak pasir putih ini membuat saya tenggelam dalam suasana pantai. Bahkan pernah saya menyanyikan lagu dari penyanyi favorit saya Monita Tahalea dengan lagunya yang berjudul Memulai Kembali dan ah! seketika saya sudah membayangkan kalau perjalanan ini berkesan sekali walaupun hanya dalam waktu sempit. Tetapi sesempit-sempitnya waktu tetap harus memanfaatkan setiap detik di pantai ini, ya! harus dinikmati!! 


Ada cerita yang belum saya ceritakan. Ini saat menyeberang dari Pantai Mutun ke Pulau Tangkil. Dari pantai lautan terlihat sangat tenang karena ombaknya tidak seperti di pantai selatan Pulau Jawa yang dengan kencangnya menghantam bibir pantai. Memang di letak Pantai Mutun ini berada di sebuah teluk jadi tidak berhadapan langsung dengan Samudera. Lantas saya tenang saja saat mulai menyeberang dan menuju Pulau Tangkil. Namun ketika sudah berada di tengah-tengah gelombang terasa sangat kencang dan perahu yang saya naiki pun seperti terombang-ambing. Duh ! bawa barang yang isinya laptop kantor jelas bikin jantung saya deg-degan "bagaiman kalau perahu ini terbalik" ah saya sudah mikir kemana-mana karena takutnya. Well! walaupun bisa berenang tapi tetap saja yang dipikirkan adalah isi dari barang bawaan hmm.. Ini kali pertamanya saya bawa barang berharga ketika traveling seperti ini. Untungnya tidak apa-apa sampai kembali ke Pantai Mutun lagi, oh syukurlah detik-detik yang mendebarkan. Tapi semuanya terbayar dengan segala keindahan Pulau Tangkil, percayalah ! 


Lokasi : 
Pulau Tangkil, Sukajaya Lempasing, Padang Cermin, Pesawaran Regency, Lampung, Indonesia

Selasa, 17 September 2019

September 17, 2019

Menyebrangi Selat Sunda di Tengah Malam Menuju Lampung

Traveling bukan soal tentang tujuan namun bagaimana proses perjalanan itu berlangsung
Selat Sunda di Tengah Malam

Ya! saya selalu suka dengan quotes di atas sebagai bukti bahwa kalau proses perjalanan adalah yang paling menyenangkan untuk beberapa orang. Jum'at minggu lalu akhirnya saya bisa berangkat menuju Lampung dengan menggunakan bus dari Kota Bandung. Sudah banyak rencana yang disusun, akan tetapi selalu saja ada yang membuatnya berantakan. Bicara soal traveling ke Lampung memakai bus dengan otomatis saya harus menyeberangi gelapnya Selat Sunda karena perjalananku dari Bandung berangkat dari jam 19:00. Dalam perjalanan Bandung ke Merak seperti biasa tidak ada yang spesial dari perjalanan malam selain tidur di kursi bus royal class dan memandangi lampu-lampu yang ada di luar jendela busku.

Perjalananku akan ditempuh selama 9 jam lamanya, itu pun kalau tidak ada kendala seperti macet. Maka dari itu saya lebih baik tidur saja. Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya saya terbangun dan sudah melihat gerbang tol Cilegon, waduh! berarti sebentar lagi saya akan tiba di pelabuhan Merak, Banten. Inilah saatnya ! menyeberangi Selat Sunda selama 2 jam lamanya. Bus menunggu untuk kapal berikutnya yang akan mengantar saya ke Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Ada beberapa aturan dan tips saat akan menaiki kapal

Aturan
1. Penumpang dilarang berada di dalam bus selama di atas kapal guna keselamatan.
2. Mesin kendaraan harus dalam kondisi mati.
3. Penumpang disarankan untuk menempati tempat duduk yang disediakan.

Tips
1. Untuk menghindari kehilangan, sebaiknya jangan menyimpan barang berharga di dalam bus selama menyebrang.
2. Karena menyebrangi Selat Sunda itu cukup memakan waktu, lebih baik digunakan untuk istirahat.
3. Awas kena tagih saat duduk di tikar! lebih baik jangan duduk lesehan ditikar kalau tidak mau ditagih untuk bayar hehe.
4. Sesekali ke deck untuk menikmati lautan sekaligus biar ga jenuh.

Waktu menunjukkan pukul 02:00 dini hari saat itu saya tengah menyebrangi Selat Sunda. Entah mengapa duduk di area penumpang membuat saya jauh lebih jenuh daripada saya berdiri memandangi gelapnya lautan dengan hembusan angin malam yang kencang. Uh disini rasanya seperti di film film gitu sehingga terbawa suasana. Untungnya malam itu langit cerah dengan sinar bulan menyinari permukaan laut, jelas momen ini lebih saya nikmati walau dinginnya angin malam di tengah lautan berhembus dengan kencangnya! Disini saya mendapatkan pengalaman tentang mengarungi lautan pada tengah malam walaupun ombak berderu dengan derasnya menghantam kapal namun untungnya saya tidak mabok! hahaha.

Saya heran kapal ini bisa saja lebih cepat sampai di Pelabuhan Bakauheni. Namun apa daya karena jalur pelayaran ini sangat padat, lantas kapal-kapal pun akan mengantre untuk bersandar di dermaga. Saat mengantre pun kapal yang saya naiki menunggu dengan sangat lama bahkan kukira kapal ini akan membawa saya ke dermaga lain atau mengelilingi pulau di dekat pelabuhan Bakauheni hmmm. Untungnya saya suka lautan jadi seberapa lama pun tidak akan membuat saya bosan memandangi kosongnya lautan seperti hati ini! #jomblo !!

Beberapa saat lagi bakal sampai nih di pelabuhan ditandai dengan pemandangan Menara Siger yang khas ketika sampai di Lampung setelah kapal ini menunggu dengan lamanya di tengah lautan! Hmm sayangnya saya sampai saat malam hari jadi tidak bisa melihat menara itu dengan tampak jelas. Sayang sekali, kalau siang pasti indah banget. Waktu menunjukkan pukul 04:00 dan kapal pun sudah bersandar di dermaga, kini saatnya melanjutkan perjalanan ke Bandar Lampung dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 45 menit. Waktunya kembali tidur karena perjalanan masih cukup jauh ! 

Kamis, 12 September 2019

September 12, 2019

Ini Ceritaku ! Ngantor, Ngerjain Laporan dan Traveling !

Ngantor dan Traveling


Pekerjaan yang super sibuk, cuti sedikit dan belum lagi dikejar deadline, ini sudah pasti bakal bikin stres dan akhirnya malah ga fokus di pekerjaan. Wah kalau sudah ga fokus bakalan mempengaruhi produktivitas dong ! karena itulah saya selalu traveling walaupun di akhir pekan dan mepet mepet. Ini demi konsentrasi dan pikiran kembali fresh! 
Ini bulan ke 8 saya memulai bekerja di sebuah kantor. Tentu hari-hari saya lewati dengan duduk seharian memandangi laptop dan bikin pegal. Menjalani rutinitas yang selalu sama setiap harinya, bagi saya ini adalah hal yang paling berat karena terbiasa dengan kebebasan dan pekerjaan pun di luar passion. Namun apa daya, kalau traveling otomatis membutuhkan uang yang tidak sedikit bukan ? maka dari itu mau tidak mau harus dijalani apapun pekerjaan demi TRAVELING ! 

Terkadang banyak temanku selalu bilang

"traveling cuma hari aja ? emangnya puas"
"ya mau gimana lagi, disini cutiku sangat sedikit, jadi satu-satunya waktu yang pas adalah weekend"
"bersabarlah"
"shiaap!" :')"

ya itulah selama saya traveling dengan waktu dari jum'at sampai minggu dan besoknya bekerja kembali. Seperti sebuah kebutuhan traveling itu. Ya sesibuk apapun sebenarnya passion harus tetap dijalani, hitung-hitung investasi untuk blog ini kedepannya. 

Sebagai tukang jalan-jalan sebenarnya traveling itu hampir sama kaya kebutuhan, karena kalau ga traveling entah apa yang akan terjadi sama diri saya hahaha. Jadi sebenarnya ga ada alasan untuk ga traveling walaupun cutinya sangat sedikit. 

Traveling sambil ngerjain Laporan!!

Inilah saya yang selalu ngerjain laporan dan harus dikirim setiap hari sabtu. Duh semakin padat saja pekerjaan saya dan semakin sedikit juga waktu yang ada buat traveling. Padahal ini harta saya satu-satunya di akhir pekan. hmm  tapi lagi-lagi gue punya jalan yaitu bangun subuh di sabtu pagi dan langsung kerjain laporan sebelum berangkat. Kalau misal pun harus berangkat hari jum'at ya terpaksa saya bawa laptop kantor buat lanjutin laporan saya yang harus dikirim dengan tepat waktu. Sebenarnya agak takut bawa laptop kantor pas traveling, takutnya rusak atau bahkan (amit-amit) hilang kan bahaya banget. Tapi bawa laptop kantor hanya ketika perjalanan dimulai pas hari jum'at kok, kalau misal berangkat sabtu siang atau malam ya nggak bakalan bawa laptop. 

Jadi prinsip saya, mau sependek apapun waktu sesekali traveling itu harus. Jika tidak maka gejala kurang piknik saya akan semakin bertambah parah hahahaha ;)