Post Top Ad

Jumat, 14 Juni 2019

Terowongan Kereta Api Sasaksaat: Terpanjang dan Aktif di Indonesia


terowongan sasaksaat
dokpri

Ketika naik kereta api Argo Parahyangan dari Bandung ke Gambir atau sebaliknya sudah pasti kita mengetahui tentang keberadaan Terowongan Sasaksaat. Terowongan ini menghubungkan jalur kereta api antara Bandung dan Purwakarta yang membelah perbukitan Cidepong di Kampung Sasaksaat, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. 

Panjang terowongan ini sekitar kurang lebih 949 meter dengan memiliki 35 sleko terdiri dari 17 di sisi kiri dan 18 di sisi kanan dari arah stasiun Sasaksaat. Terowongan ini dibangun oleh para pekerja rodi atas perintah kolonial Belanda dulu pada tahun 1902 hingga 1903.

terowongan sasaksaat

Awal mula saya mulai menyusuri terowongan ini karena kecintaan saya pada moda transportasi kereta api atau railfans. Tentu menjadi hal yang menarik jika memiliki kesempatan untuk dapat menyusuri sepanjang terowongan ini. Bersama teman saya yang juga merupakan pecinta kereta api saya mulai menuju stasiun Sasaksaat pada sore hari saat itu. 

Namun, untuk dapat memasuki terowongan ini kami perlu mendapatkan izin dari JPTw (Juru Periksa Terowongan) untuk menghindari hal yang tidak diinginkan dan sebelum memasuki terowongan ini juga kami harus tau perjalanan kereta api yang akan melintas menuju Terowongan Sasaksaat, mengingat jalur Bandung - Purwakarta merupakan jalur kereta api yang cukup padat dengan lalu lalang kereta api setiap harinya. 

terowongan sasaksaat
dokpri

Kami bercerita cukup banyak tentang terowongan ini dan apa yang diperiksa saat melakukan penyusuran bersama kru JPTw saat memasuki terowongan ini. Pemeriksaannya banyak tapi saya tidak bisa menyebutkan secara detail, tetapi hal yang paling utama adalah pemeriksaan kondisi rel dalam terowongan oleh JPTw dan saluran air.  
Mengenai saluran air dalam Terowongan Sasaksaat, sebenarnya apa yang diperiksa ? ternyata petugas menjelaskan kepada kami bahwa untuk memastikan saluran air tidak tersumbat oleh sampah yang mengakibatkan banjir. 
Jika terjadi banjir, bisa saja batuan balast yang berada di dalam terowongan terbawa oleh air atau pondasi rel tersebut terkikis air yang bisa menyebabkan amblas dan berdampak pada perjalanan kereta api. 

Entah darimana sampah-sampah itu datang, terkadang saya melihat sampah itu seperti bukan datang dari masyarakat sekitar karena sampah tersebut seperti bekas wadah makanan yang biasanya saya beli di atas kereta api. Jelas hal ini membuat saya sontak memungutnya sekaligus berkontribusi mengingat cukup paham tentang tugas JPTw dengan segudang resiko  yang selalu memeriksa terowongan ini setiap harinya demi keselamatan penumpang dan perjalanan kereta api. 
Tak pernah berpikir betapa gelapnya di dalam sana. Karena siapapun mengerti dimana pun kita berada harus tetap menjaga sikap. Tapi yang terpikirkan dalam benak saya. 

Memeriksa terowongan yang gelap, memang walaupun ada lampu yang sudah dipasang di dalamnya, tapi lampu tersebut tidak selalu menyala bisa dikatakan ketika dibutuhkan saja. Maka pemeriksaan dilakukan dengan hanya sebuah senter untuk berjaga-jaga jika lampu tersebut mati saat akan kembali menuju pos. Penyusuran terowongan Sasaksaat kali ini membuat saya belajar bahwa ada sejarah di dalamnya dan ada petugas yang berkorban supaya kondisi terowongan tetap aman dan perjalanan kereta api tetap selamat sampai tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar