Post Top Ad

Senin, 04 Maret 2019

Jadi Mas-Mas Kantoran

Yogyakarta, Nol Kilometer

Akhirnya di tahun ini saya mulai memulai nasib baru sebagai mas-mas kantoran yang kerjanya mantengin laptop tiap hari dan bekerja di bawah tekanan. Ada senangnya sih karena sudah ga disebut sebagai jobless lagi. Tapi ada juga sisi lainnya, jadi mas-mas kantoran berarti ga ada lagi nikmatin traveling di kala weekday. Dan yang beratnya waktu cuti saya sedikit. Jadi mau ga mau saya harus curi-curi waktu saat weekend datang. 

Beda sama waktu kuliah dulu, saya sering banget nabung dan buat traveling. Tentu bucketlist pun sudah tersusun rapi mau kemana dan ngapain aja. Tapi setelah jadi mas-mas kantoran kadang ga perlu nabung sedemikian ketatnya, tapi di satu sisi waktu travelingnya hanya sedikit bahkan kayanya cuma punya waktu weekend aja. Walaupun kerjaan sibuk ini itu, tapi kalau urusan passion saya ga akan berhenti hanya karena sudah bekerja di kantor. Saya pernah bilang kalau pengalaman itu merupakan investasi, terlebih passion dan kerjaan saat ini belum pas. 

Follow your Passion
2 Minggu yang lalu saya berhasil traveling saat sudah jadi mas-mas kantoran. Walaupun waktu hanya 12 jam di Yogyakarta. Entah ini disebut traveling atau bukan tapi saya berpetualang sampai ke sudut-sudut kota Jogja kala itu. Udah kaya Pejuang Weekend atau Weekday worker, Weekend traveler. Bucket list saya untuk weekend ini kayanya mau coba ke Tanah Sumatera untuk pertama kalinya. Antara Lampung atau Sumatera Selatan. Tapi semua masih dalam rencana karena jadi Pejuan Weekend saya harus benar-benar membuka otak gimana caranya dalam waktu singkat saya bisa ke beberapa tempat? Semakin rumit memang, padahal simple. Mungkin gue yang bikin rumit hahahaha ups.

Saya masih tetap nulis di blog ini. Jadi orang kantoran bukan berarti saya harus ninggalin passion dan pembaca setia blog saya. Unch!
Mungkin di tulisan selanjutnya saya akan lebih nulis tentang tips a la saya sebagai Pejuang Weekend hehehe. Passion saya tetap pada dunia luar yang hobinya bereksplorasi. Duh kalau bilang kaya gitu sangat bertolak belakang banget sama nasib saya sekarang yah. Tapi apapun itu demi tercapainya impian, saya harus berjuang. Bener kan ?


1 komentar: