Post Top Ad

Senin, 15 Juli 2019

Juli 15, 2019

Di Tengah Hutan ada Hotel ?


Akhir pekan telah tiba marilah sejenak bersantai melihat kehijauan alam, karena yang hijau-hijau membuat maya kita segar bukan ? hehehe. Masih tentang staycation nihkali ini saya memilih untuk menginap yang benar-benar tidak jauh dari rumah saya. Sepertinya Lembang cocok karena lokasinya hanya 20 menit dari rumah saya dengan menggunakan sepeda motor, terlebih lagi dingin dan sejuknya udara Lembang membuat saya lebih nyaman ketika menginap di hotel yang saya pilih yaitu Imah Seniman Resort.

Seperti pada umumnya sebuah resort, berlokasi yang benar-benar memiliki keindahannya tersendiri walaupun jauh darimana-mana. Tapi memang seperti itu mungkin yah sebuah resort hotel, mencari lokasi yang benar-benar bisa memanjakan diri. Awal mulanya saya ga berniat menginap di sebuah resort tapi memang kebetulan saja ada yang cukup worth it sudah gitu rasanya gimana menginap sebuah kamar hotel yang sekelilingnya adalah hutan, wah sebenarnya cukup menarik juga staycation di Lembang.

Hanya 1 malam. Tidak masalah yang penting gimana caranya supaya bisa menikmati pelayanan dan kenyamanan di hotel tersebut. Dan kebetulan hari itu saya baru saja menjelajahi Pangalengan, rasanya menikmati kenyamana di kamar hotel pun boleh dengan budget yang standar lah karena masih ingat jiwa missqueen ini meronta hahaha.

Balik lagi tentang Imah Seniman Resort. Saya ambil kamar yang cukup nyaman untuk semalam, yah seperti yang pernah dibahas sebelumnya untuk apa menginap di kamar hotel yang suasananya ga jauh lebih enak dari kamar sendiri ? hehehe. Kalau staycation sekalian aja ambil kamar yang sekiranya bisa benar-benar memanjakan diri. Di Imah Seniman Resort saya ambil kamar dengan forest view, karena memang kebetulan saya belum pernah tidur dan merasakan bagaimana terbangun dengan view di sisi kiri dan kanan adalah hutan (padahal camping aja apa susahnya yak ?). Satu hal lagi di dekat kamar yang saya pesan dekat dengan danau yang didesain oleh hotel ini sendiri. Wah! pokoknya memang worth it banget dah...

Suasana hutannya memang kerasa banget dengan suara-suara serangga hutan yang memberikan kesan hidup dan memang berasa ada di tengah hutan dengan kenyamanan kamar hotel yang mbikin jadi adem dan enjoy!
Hal yang paling saya sukai dari kamar ini adalah desainnya yang memberikan suasanan tradisional dengan lantai kayu tetapi tetap memberikan kesan modern. Selain itu tidak ada AC di kamar ini, sudah jelas bukan ? untuk apa AC kalau suhu ruangan normalnya pun sudah sedingin kamar yang pakai AC dan kalau boleh jujur saya menggigil saat malam hari entah karena cuaca Lembang atau memang cuaca sedang ekstrim. Tapi inilah kesan dari Imah Seniman Resort. Dengan hal modern dari sebuah kamar hotel tapi di sisi lain memberikan tradisional, seni dan budaya Sunda.

Disini saya melihat kalau instruksi-instruksi menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, sedangkan bahasa Inggris hanya ada pada instruksi tertentu. Wah kalau gini mah euy alus pisan! di balik modernnya suasana hotel namun tetap menjaga tradisi sesuai di daerahnya sendiri. Ngomong-ngomong, foto sebelah ini luarnya hutan loh yah. Dan satu hal lagi, jendela di kamar saya ini besar banget, jadi kesannya saat bangun tidur pemandangan hutan langsung terlihat secara langsung.

Walaupun semuanya tampak bagus tetapi ada beberapa hal yang mungkin saya kurang puas dengan bathubnya yang terlalu besar bagaikan bak mandi sementara air panas hanya sebatas beberapa liter saja, jadi saya tidak bisa merasakan gimana berendam air hangat dalam bathub padahal enak kalau cuaca dingin berendam pakai air hangat (curhat) hmmm. Tapi tak masalah yang penting saya mandi! lol.

Untuk 1 malam saja menginap di kamar hotel dengan suasana forest view, saya rasa cukup memberikan pengalaman staycation kemarin.

http://www.imahseniman.com/


Jumat, 14 Juni 2019

Juni 14, 2019

Terowongan Kereta Api Sasaksaat: Terpanjang dan Aktif di Indonesia


terowongan sasaksaat
dokpri

Ketika naik kereta api Argo Parahyangan dari Bandung ke Gambir atau sebaliknya sudah pasti kita mengetahui tentang keberadaan Terowongan Sasaksaat. Terowongan ini menghubungkan jalur kereta api antara Bandung dan Purwakarta yang membelah perbukitan Cidepong di Kampung Sasaksaat, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. 

Panjang terowongan ini sekitar kurang lebih 949 meter dengan memiliki 35 sleko terdiri dari 17 di sisi kiri dan 18 di sisi kanan dari arah stasiun Sasaksaat. Terowongan ini dibangun oleh para pekerja rodi atas perintah kolonial Belanda dulu pada tahun 1902 hingga 1903.

terowongan sasaksaat

Awal mula saya mulai menyusuri terowongan ini karena kecintaan saya pada moda transportasi kereta api atau railfans. Tentu menjadi hal yang menarik jika memiliki kesempatan untuk dapat menyusuri sepanjang terowongan ini. Bersama teman saya yang juga merupakan pecinta kereta api saya mulai menuju stasiun Sasaksaat pada sore hari saat itu. 

Namun, untuk dapat memasuki terowongan ini kami perlu mendapatkan izin dari JPTw (Juru Periksa Terowongan) untuk menghindari hal yang tidak diinginkan dan sebelum memasuki terowongan ini juga kami harus tau perjalanan kereta api yang akan melintas menuju Terowongan Sasaksaat, mengingat jalur Bandung - Purwakarta merupakan jalur kereta api yang cukup padat dengan lalu lalang kereta api setiap harinya. 

terowongan sasaksaat
dokpri

Kami bercerita cukup banyak tentang terowongan ini dan apa yang diperiksa saat melakukan penyusuran bersama kru JPTw saat memasuki terowongan ini. Pemeriksaannya banyak tapi saya tidak bisa menyebutkan secara detail, tetapi hal yang paling utama adalah pemeriksaan kondisi rel dalam terowongan oleh JPTw dan saluran air.  
Mengenai saluran air dalam Terowongan Sasaksaat, sebenarnya apa yang diperiksa ? ternyata petugas menjelaskan kepada kami bahwa untuk memastikan saluran air tidak tersumbat oleh sampah yang mengakibatkan banjir. 
Jika terjadi banjir, bisa saja batuan balast yang berada di dalam terowongan terbawa oleh air atau pondasi rel tersebut terkikis air yang bisa menyebabkan amblas dan berdampak pada perjalanan kereta api. 

Entah darimana sampah-sampah itu datang, terkadang saya melihat sampah itu seperti bukan datang dari masyarakat sekitar karena sampah tersebut seperti bekas wadah makanan yang biasanya saya beli di atas kereta api. Jelas hal ini membuat saya sontak memungutnya sekaligus berkontribusi mengingat cukup paham tentang tugas JPTw dengan segudang resiko  yang selalu memeriksa terowongan ini setiap harinya demi keselamatan penumpang dan perjalanan kereta api. 
Tak pernah berpikir betapa gelapnya di dalam sana. Karena siapapun mengerti dimana pun kita berada harus tetap menjaga sikap. Tapi yang terpikirkan dalam benak saya. 

Memeriksa terowongan yang gelap, memang walaupun ada lampu yang sudah dipasang di dalamnya, tapi lampu tersebut tidak selalu menyala bisa dikatakan ketika dibutuhkan saja. Maka pemeriksaan dilakukan dengan hanya sebuah senter untuk berjaga-jaga jika lampu tersebut mati saat akan kembali menuju pos. Penyusuran terowongan Sasaksaat kali ini membuat saya belajar bahwa ada sejarah di dalamnya dan ada petugas yang berkorban supaya kondisi terowongan tetap aman dan perjalanan kereta api tetap selamat sampai tujuan.

Rabu, 12 Juni 2019

Juni 12, 2019

Perjalanan Eksotis dengan KA Siliwangi


ka siliwangi
dokpri

Traveling tidak harus selalu dengan mengunjungi tempat wisata yang sudah dikenal banyak orang bukan ? Kini aku bercerita tentang perjalananku dengan Kereta Api Siliwangi dari Cianjur hingga ke Sukabumi tidak sia-sia saya gunakan semua waktunya. Well, beberapa tahun yang lalu pun saya pernah naik kereta api Siliwangi, antusiasme saya naik kereta api ini karena sebelumnya jalur itu sudah lama mati dan tentu saja itu jadi hal yang menarik karena sebelumnya tidak pernah tau bagaimana indahnya jalur tersebut.

source : dokumentasi pribadi
Pengalaman pertama adalah hal yang paling berkesan. Jujur saya belum pernah melihat keindahan jalur Cianjur - Sukabumi yang dulu lama sekali non-aktif. Setelah sekian lama menunggu jalur ini akhirnya diaktifkan kembali. Terlihat saat saya menaiki kereta api Siliwangi, masyarakat begitu antusias melihat kereta api lewat, wajar saja sudah bertahun-tahun non-aktif akhirnya dilalui kereta api lagi. Tapi malah gantian! sekarang jalur Padalarang - Cianjur yang non-aktif karena masih perbaikan medan jalan dari tahap 1 hingga tahap 3 sebelum benar-benar bisa dilalui kereta api. Saya hanya berharap segera diaktifkan, karena jalur ini eksotis dan alternatif untuk saya pergi ke Bogor atau ke Jakarta nanti hehehe.

Sangat menguntungkan sekali akhirnya ada kereta api Siliwangi yang bisa menjelajahi jalur eksotis ini. Apalagi tiketnya yang murah hanya Rp 3000 dengan jalur seperti jalur wisata seperti jelas saya sangat antusias. Sebab baru saja berangkat dari stasiun Cianjur, pemandangan di luar jendela sudah disuguhkan dengan kemegahan Gunung Gede. 

Gunung Gede 


Melihat Gunung Gede sambil menaiki kereta api dan melihat hamparan sawah di tanah Cianjur membuat pengalamanku semakin berharga karena naik kereta ini aku berasa seperti sedang naik kereta api wisata dengan harga murah.

source : dokumentasi pribadi
Setiap perjalanan memiliki panoramanya masing-masing dan cerita di dalamnya. Karena itulah sebenarnya perjalanan lebih banyak melahirkan ide untuk bercerita nanti. Seperti halnya ketika melewati Pasirhayam saya melihat Gunung Gede tinggi menjulang di balik jendela kereta, hamparan sawah di Cilaku atau Cibeber, himpitan bukit di Sindangresmi, melewati terowongan yang umurnya sudah hitungan abad di Lampegan hingga keasrian alam di Cireungas. Bisa bayangkan bagaimana eksotisnya jalur ini ?

source : dokumentasi pribadi
Petak paling menarik dengan pemandangannya yang indah. Saya hanya mengetahui nama daerahnya yaitu Sindangresmi karena memang berdekatan dengan stasiun Sindangresmi, namun sekarang itu hanya sebuah halte dan sekarang kondisinya sudah rusak. Jalur ini memang banyak stasiun dan halte yang saya pikir sudah tidak bisa dipakai lagi, jadi KA Siliwangi pun hanya berhenti di stasiun yang sudah ditentukan. Mungkin kalau dulu tahun 90an KA Lokal Cianjur atau Argo Peuyeum bisa berhenti di stasiun tersebut.

source : dokumentasi pribadi
Ini dia terowongan kereta api tertua yang aktif sampai saat ini. Terowongan Lampegan, saya tidak tau secara detail tentang Lampegan. Tapi asal katanya dari "Lamp a gaan" yang artinya nyalakan lampu ketika orang Belanda dulu bilang nyalakan lampu sebelum memasuki terowongan ini sebelum seisi kereta menjadi gelap.

Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam dari Cianjur ke Sukabumi maupun sebaliknya. Dengan pemandangan seperti itu pun perjalanan akan semakin seru karena keindahan jalur kereta ini benar-benar akan membuatmu seperti naik kereta api wisata. Berharap nanti kalau jalur Padalarang - Cianjur sudah kembali aktif akan ada kereta wisata sepanjang jalur ini. Amiin.

***
Dengan hanya Rp 3000 kamu sudaah bisa menikmati keindahan seperti di atas dengan KA Siliwangi. Tapi, untuk mendapatkan tiketnya pun perlu mengantri. Nah, ada yang lebih mudah dan bisa dipesan melalui KAI Access loh dengan metode pembayaran LinkAja. Dengan begitu tidak perlu takut kehabisan tiket karena tiket kereta lokal pun sekarang sudah dipesan.




Selasa, 11 Juni 2019

Juni 11, 2019

Jadwal Kereta Api Siliwangi 2019

source: dokumentasi pribadi

Bepergian dengan kereta api memang sangat menyenangkan dan lebih praktis karena kita hanya memesan tiket dan duduk di kursi yang telah kita pesan. Berbicara tentang kereta api, traveling dari Cianjur ke Sukabumi kini bisa lebih mudah dan murah dengan menggunakan Kereta Api Siliwangi.

Stasiun pemberhentian Kereta Api Siliwangi antara lain Stasiun Cianjur, Stasiun Cibeber, Stasiun Lampegan, Stasiun Cireungas, Stasiun Gandasoli dan Stasiun Sukabumi

JADWAL KA SILIWANGI RUTE CIANJUR-SUKABUMI KA 455
Stasiun
Cianjur
Sukabumi
Cianjur
Cibeber
Lampegan
Cireungas
Gandasoli
Sukabumi
-
08:40
09:05
09:14
09:26
09:40
08:15
08:41
09:06
09:15
09:27
-

JADWAL KA SILIWANGI RUTE CIANJUR-SUKABUMI KA 457
Stasiun
Cianjur
Sukabumi
Cianjur
Cibeber
Lampegan
Cireungas
Gandasoli
Sukabumi
-
14:15
14:40
14:49
15:01
15:15
13:50
14:16
14:41
14:50
15:02
-

JADWAL KA SILIWANGI RUTE CIANJUR-SUKABUMI KA 459
Stasiun
Cianjur
Sukabumi
Cianjur
Cibeber
Lampegan
Cireungas
Gandasoli
Sukabumi
-
18:40
19:05
19:14
19:26
19:40
18:15
18:41
19:06
19:15
19:27
-
JADWAL KA SILIWANGI RUTE SUKABUMI-CIANJUR 456
Stasiun
Sukabumi
Cianjur
Sukabumi
Gandasoli
Cireungas
Lampegan
Cibeber
Cianjur
-
05:58
06:11
06:20
06:44
07:10
05:45
05:59
06:12
06:21
06:45
-

JADWAL KA SILIWANGI RUTE SUKABUMI-CIANJUR 458
Stasiun
Sukabumi
Cianjur
Sukabumi
Gandasoli
Cireungas
Lampegan
Cibeber
Cianjur
-
10:33
10:46
10:55
11:19
11:45
10:20
10:34
10:47
10:56
11:20
-



JADWAL KA SILIWANGI RUTE SUKABUMI-CIANJUR 460
Stasiun
Sukabumi
Cianjur
Sukabumi
Gandasoli
Cireungas
Lampegan
Cibeber
Cianjur
-
16:03
16:16
16:25
16:49
17:15
15:50
16:04
16:17
16:26
16:50
-

Tarif harga KA Siliwangi Cianjur-Sukabumi pp sebesar Rp 3.000 untuk sekali jalan. 

Sekarang pun tiket KA Siliwangi dapat dipesan di aplikasi KAI Access loh! dengan metode pembayaran menggunakaan LinkAja.  Jadi jangan takut kehabisan tiket karena sekarang pembelian tiket sudah online dan lebih mudah.

Jumat, 07 Juni 2019

Juni 07, 2019

Keliling Taman Bunga Begonia di Lembang

source : dokumentasi pribadi

Tibalah akhir pekan dan saatnya kita refreshing! Enaknya ke tempat yang sejuk apalagi kalau dikelilingi bunga, Bandung cocok sepertinya. Nah tepat sekali akhirnya aku menemukan wisata yang bisa memanjakan mata dengan pesona warna-warni bunga yang bermekaran. Sebenarnya bagi para florist mungkin Taman Begonia ini pas banget buat melihat-lihat bunga yang bermekaran seluas lokasi wisata ini. Cantik banget ! 

Aku bersama teman kuliahku kebetulan sedang berkunjung ke Lembang, iseng-iseng buat eksplor sekaligus bikin vlog ceritanya hehehe. Well, kami mencoba untuk ke Taman Begonia karena penasaran jadi langsung pergi kesana tanpa basa-basi lagi. Seperti biasa jalan-jalan ala saya ini selalu dadakan melulu, habis kalau direncanain kadang-kadang suka ga jadi. Eh tapi ga sering-sering juga sih hehe.

Oh iya. Selain itu buat kamu yang penasaran gimana rasanya berjalan di antara bunga-bunga di taman ini, kamu bisa kok langsung ke Lembang, tepatnya di Jalan Maribaya No. 120A, Lembang, Bandung.

Hanya dengan tiket masuk sebesar Rp 15.000 per orangnya kalian sudah bisa menikmati bagaimana rasanya dikelilingi oleh bunga – bunga yang cantik. Tidak hanya itu kebun ini pun terdapat bagian kebun yang ditumbuhi dengan sayur-sayuran. (*tiket masuk bisa berubah sewaktu-waktu)


Ah sebenarnya di sini bukan hanya sekedar taman bunga aja, ternyata kalau masuk lebih dalam ada kebun sayur yang bisa kamu petik langsung sendiri. Aku rasa Taman Bunga Begonia ini lebih cocok sebagai lokasi rekreasi keluarga yang ga ribet dan bisa santai-santai. Lokasinya yang berada di ketinggian membuat suasana udara disini semakin sejuk. Jadi cocok banget buat ngadem sambil berkeliling melihat kecantikan bunga-bunga disini.

Tips Wisata ke Taman Begonia

1. Harga tiket masuk Rp 15.000  - Rp 20.000 (Harga sewaktu-waktu dapat berubah

2. Tempat parkir sudah disediakan, jadi tidak perlu takut susah tempat parkir

3. Kalau membawa kamera profesional ada biaya tambahan lagi

4. Cobalah berjalan ke dalam hingga ke kebun sayur mungkin kamu bisa memetik sayuran segar langsung.

5. Jangan lupa mengabadikan foto. hehehe

Kamis, 06 Juni 2019

Juni 06, 2019

Galeri Nasional Indonesia, Rumah Bagi Para Penikmat Seni

Galeri Nasional Nasional atau GNI surganya bagi para penikmat seni mulai dari folk hingga kontemporer. Terkadang lokasi ini sering menjadi lokasi pameran seni sementara/temporary exhibition yang berada di gedung pameran. Bagi penikmat seni mungkin GNI ini bisa menjadi referensi untuk mencari ide-ide lukisan atau karya seni lainnya, dengan bukti ada saja pelukis yang menuangkan idenya di selembar kanvas dan duduk di pinggiran cafe. Seperti di Eropa saja hehehe.


Berlokasi di Jakarta Pusat dekat dengan stasiun Gambir menampilkan banyak sekali karya seni dari para seniman hebat yang berasal dari Indonesia bahkan Dunia. Karya yang dipajang di area ruang permanen adalah lukisan dan karya seni dari seniman-seniman hebat tentunya.

Galeri Nasional Indonesia (GNI) adalah 'rumah' bagi karya-karya seni rupa terbaik nusantara dan mancanegara. Koleksi-koleksi terbaik GNI dapat dinikmati oleh publik melalui sebuah pameran tetap, yang sejak 2015 terwujud dalam konsep baru melalui penataan karya dan ruang yang informatif dan interaktif. 

Dalam galeri ini kamu akan diajak untuk melintasi sejarah seni di negeri ini, dari era perintisan seni rupa modern Indonesia, Mooi Indie, Persagi, sanggar seni, hingga seni rupa kontemporer. Menghadirkan karya dari berbagai praktik seni yang terdiri dari seni lukis, seni grafis, seni patung, seni instalasi, seni video, hingga seni media dan dipamerkan melalui berbagai medium agar pengunjung dapat memahami karya seni yang ditampilkan dengan mudah.

Di dalam Galeri Nasional Indonesia, di bagian Raden Saleh Sjarif Bustaman contohnya banyak sekali seni-seni hebat yang dipamerkan dalam satu ruangan tersebut salah satunya adalah lukisan seperti gambar berikut










Tips Mengunjungi Galeri Nasional Indonesia

1. Kenali aturannya secara umum

Pertama, barang bawaan kecuali handphone dan kamera harus dititipkan ketika masuk ke dalam area gedung

Kedua, dilarang membawa makanan dan minuman. Tentu saja ini untuk menghindari kotornya area gedung dan karya-karya seni yang dipajang.

Ketiga, mengisi daftar pengunjung.

Keempat, tidak diperkenankan menyentuh pajangan, berduduk di lantai atau berjongkok pun tidak boleh.

*Saat masuk akan dijelaskan kembali tentang aturan-aturan bagi pengunjung

2. Berfotolah, tapi jangan sampai menyentuh galeri museum.

3. Tidak ada tiket masuk alias gratis dan siapapun bisa masuk ke GNI

4. Lokasi GNI berada dekat sekali dengan stasiun Gambir sehingga akan mudah ditemukan lokasinya.

5. Nikmati setiap sudut museum. 


Rabu, 05 Juni 2019

Juni 05, 2019

Pagi Sunyi di Yogyakarta


"Penumpang yang kami hormati sesaat lagi kereta api Kahuripan akan tiba di Stasiun Lempuyangan" 

Sudah terdengar announcer kereta api sudah terdengar itu tandanya kereta yang aku naiki akan tiba di tujuan. Beberapa menit kemudian, keretaku akhirnya tiba di stasiun Lempuyangan, suasana masih sangat sunyi dan waktu menunjukkan pukul 03:00. Aku bingung apa yang harus aku lakukan di pagi buta ini. Lantas aku menunggu hingga subuh nanti. Kereta yang aku naiki kembali melanjutkan perjalanannya dan nampak semakin sepi stasiun kala itu. 

Menunggu waktu subuh di kursi ruang tunggu penumpang. Ku lihat sudah banyak penumpang yang meninggalkan stasiun karena seseorang menjemputnya. Menunggu subuh tiba dan sambil menuliskan catatan perjalananku kembali. Sendiri di stasiun membuatku seperti dalam cerita orang-orang yang bepergian seorang diri. Tetapi walaupun sendiri  tetapi aku tak pernah merasa kesepian di kota yang penuh kenangan yaitu Yogyakarta.

Perjalananku ini tidak akan aku lupakan dan akan selalu menjadi cerita yang kelak di masa yang akan datang. Betapa sejuk dan sunyinya kota ini di pagi hari walaupun aku merasakannya di dalam stasiun kereta api. Kios yang berada dalam stasiun pun masih ada beberapa yang tutup tetapi ada pula yang sudah beraktivitas sepagi ini. Ku lihat hanya tukang ojek saja yang sudah beraktivitas diluar untuk menanti para penumpang kereta selanjutnya yang akan tiba.

Waktu hampir menunjukkan tiba waktu subuh, ku bersiap untuk shalat subuh lalu bersiap untuk memulai aktivitas di luar sana. Semua nampak bersiap untuk beraktivitas setelah subuh datang. Ku langkahkan kaki menuju keluar stasiun, terlihat beberapa orang menawarkan ojek padaku, tapi perjalananku dapat ditempuh dengan jalan kaki untuk menuju jalan Malioboro yaitu jantung kota Yogyakarta.

Aku berjalan dan jalanan masih sunyi dan senyap serta dengan cukup penerangan yang membuat cerita ini semakin menarik karena kini aku berjalan hanya sendirian di sebuah kota besar. Aku tidak merasa takut, entah mengapa seakan-akan kota ini sangat aman. Ketika aku berjalan aku melihat beberapa orang yang melintas dengan sepedanya, pemandangan ini tentu menjadi sebuah kekhasan tersendiri kota ini. Beda ketika aku berjalan kaki di pagi hari di Kota Bandung. Seakan-akan Kota Yogyakarta masih menyimpan budayanya sendiri.

Setelah sekitar 15 menit akau berjalan aku melewati jalan dan jembatan di Kali Code. Biasanya aku sering melihat wilayah ini mulai padat dari matahari terbit hingga tengah malam nanti. Namun ketika aku melewati jalan ini di pagi buta, seakan-akan jalan ini beristirahat sejenak. Sunyi dan Senyap tanpa adanya kendaraan besar seperti bus melalui jalan tersebut. 

pagi sunyi di yogyakarta
Photo by Fariz
Setelah berjalan beberapa menit dari Stasiun Lempuyangan. Akhirnya aku sampai di Jalan Malioboro, jantung kota Yogyakarta yang begitu terkenal dengan suasananya dari dulu hingga sekarang, tak pernah berubah. Ku melihat masih sunyi jalan ini di pagi hari. Hanya sedikit kendaraan berlalu lalang dan aku melihat para wisatawan yang baru tiba di kota ini keluar dari Stasiun Tugu. Kemegahan Stasiun Tugu kulihat dengan lampu yang terang mencahayai setiap gedung. Sunggu pemandangan yang indah dipandang, di kala aktivitas masih sangat sepi dari lalu lalangnya orang kesana kemari di kota ini. Mungkin hanya momen di pagi buta inilah aku bisa melihat jantung kota yang beristirahat sejenak dari hiruk pikuknya keramaian.

pagi sunyi di yogyakarta
Photo by Fariz
Aku berjalan menyusuri sepanjang Jalan Malioboro. Sungguh pagi yang sunyi! biasanya aku lihat disini sangat ramai ketika aku tiba di malam hari atau di sore hari. Namun suasana nampak berbeda ketika di pagi hari. Hanya beberapa orang yang beraktivitas di jalan ini seperti wanita yang menajajakan jajanan di pagi hari, bus yang berlalu lalang, pria yang mengayuh becaknya dan menawarkan jasanya kepada wisatawan yang datang. Tak berubah sama sekali pemandangan ini walaupun sudah berpuluhan tahun aku selalu kembali kesini setiap tahunnya.


pagi sunyi di yogyakarta
Photo by Fariz
Matahari sudah menerangi langit di Yogyakarta dan tiba akhirnya di penghujung Jalan Maliboro dan akhirnya tiba di titik nol Yogyakarta. Walaupun langit mendung menyelimuti, namun sejuta pesonanya tidak pernah hilang dan kehangatan dan ramah taman orang sekitar pun tetap kurasakan. Di sepanjang jalan yang aku telah lalui.