Post Top Ad

Wednesday, October 16, 2019

October 16, 2019

Sensasi Naik Kereta Api di Gerbong Paling Terakhir itu Seru !

kereta api
Kereta api Pangandaran di Stasiun Tasikmalaya

Traveling menggunakan transportasi kereta api memang selalu jadi andalan saya selama ini. Praktis, tidak perlu cape karena berkendara, tinggal duduk dan menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Nah, ada satu kebiasaan yang mungkin sering saya lakukan ketika menggunakan kereta api yaitu memesan tiket di kereta paling belakang. Bicara soal kereta dan gerbong sebenarnya saya mengetahui perbedaan antara "kereta" dan "gerbong" secara teknis kereta itu didefinisikan sebagai ruang khusus penumpang di sebuah rangkaian kereta api, sementara gerbong digunakan untuk barang. Tapi saya mengambil istilah yang mungkin ada pada KBBI dan umum didengar di masyarakat yaitu gerbong hehe.

Kalau sedang booking tiket kereta apalagi sekarang tempat duduknya bisa dipilih sendiri jadi saya selalu memilih untuk booking kursi di gerbong paling belakang baik itu perjalanan siang atau malam. Mungkin ada beberapa orang yang "nggak mau" duduk di kereta paling belakang apalagi kalau perjalanan malam udah gitu sepi lagi. Ah sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti sih atau mungkin sudah biasa yak ? hahaha. Alasannya sih banyak kalau disebutkan mengapa saya sering memilih gerbong paling belakang, yaitu karena memang ketersediaan kursinya masih banyak dan yang paling asik itu bisa melihat pemandangan dari belakang. Dari dulu memang hobinya back riding kalau istilah yang digunakan railfans seperti saya ini hehehe.

Ada zamannya dulu paling menghindari back riding ketika kereta api dulunya masih menggunakan aling-aling atau disebut gerbong tambahan yang gunanya untuk menghindari kecelakaan seperti tabrakan di belakang atau anjlokan. Namun sekarang kebijakan penggunaan aling-aling sekarang sudah dicabut lagi dan akhirnya sekarang bisa back riding lagi yeeee!

Ada enaknya dan ada ga enaknya juga memilih gerbong di paling belakang. Enaknya adalah bisa lihat pemandangan rel yang kalau direkam bisa jadi konten menarik dan kalau sedang kosong penumpang rasanya damai banget apalagi waktu itu pernah saya naik kereta api Pangandaran dari Tasikmalaya dan duduk di kereta paling belakang dan seketika terkejut selama perjalanan itu satu gerbong belakang hanya saya seorang! oh jelas ini merdeka sekali hahaha. Ga enaknya kalau sudah tiba di tujuan mau turun ke peron saya harus berjalan dulu ke tengah karena tidak dapat peron dan agak jauh untuk menuju pintu keluar kalau misalnya pintu keluar itu ada di posisi gerbong paling depan. Walaupun sebenarnya ada ga enaknya tapi saya pikir bukan masalah karena selama masih punya kaki untuk melangkah kenapa tidak ? :D

Selain itu pemandangan dari belakang kereta akan tampak lebih seru, saya bisa menikmati pemandangan saat kereta api sedang berbelok. Hmm untuk pemburu konten footage seperti saya ini hal itulah yang bisa jadi sebuah konten nantinya. Selain itu pemandangan rel dari belakang akan lebih jelas terlihat dan seru sekali selama perjalanannya itu. Entah menurut orang sepertinya biasa saja tapi bagi saya ada sensasi tersendiri ketika naik kereta api di gerbong paling belakang.

Tuesday, October 8, 2019

October 08, 2019

Pagi Biru yang Mempesona di Tebing Keraton, Bandung



Pemandangan alam di Bandung itu memang selalu menjadi favorit pengunjung setiap kali berkunjung ke Bandung. Walaupun saya tinggal di kota yang tidak jauh dari Bandung yaitu Cimahi namun kali ini saya ingin mencoba menjadi turis di kota sendiri hehe. Setelah berbagai wacana saya pikirkan akhirnya tibalah untuk merealisasikannya, dari dulu memang saya ingin coba mengunjungi Tebing Keraton di Bandung dan melihat suasana pagi hari berkabut di atasnya. Katanya pemandangan disana saat pagi hari sangat indah dan menyegarkan tentunya. 

Kali ini saya tidak berangkat dari rumah, untungnya ada kesempatan untuk menginap di salah satu hotel terdekat karena berhubung saat itu sedang ada promo EPIC! jadilah saya mencari hotel yang sekiranya dekat dengan Tebing Keraton karena kalau dari rumah entah jam berapa saya harus memulai perjalanan menuju Tebing Keraton. 

Suasana masih tampak sepi pagi itu di tengah kota. Karena mataharinya terbit pukul 05:30 jadi jika berangkat dari hotel jam 04:30 perkiraan saya bakal sampai tepat sebelum waktu sunrise dimulai. Jadi waktu tempuh yang dibutuhkan dari hotel menuju Tebing Keraton tidak terlalu lama sekitar kurang lebih 20 menit dari Dago tempat saya memulai perjalanan. Perhitungan waktu ini saya pikir akan sangat penting sebab ketika sampai disana tidak akan kepagian dan tidak akan kesiangan dan enaknya tidak perlu tunggu berlama-lama. 

Saya berpikir kalau saya bakal jadi orang pertama yang sampai disana. Namun ekspektasi saya ternyata meleset, ternyata lokasi Tebing Keraton ini sangat terkenal dengan lokasi yang pas untuk menikmati sunrise loh! dan justru pagi itu sudah banyak kerumunan orang yang menunggu sunrise tiba hmm padahal matahari tidak tampak sekali malahan tertutup bukit. Tapi walaupun begitu ternyata pengunjung lebih mencari suasana pagi dengan latar belakang gunung yang berselimut kabut pagi.



Sulitnya mendapatkan spot foto !

Ini nih yang paling sulit kalau misalkan saya kesiangan, di tepi tebing sudah banyak pengunjung dan orang-orang yang rama berselfie. Jadi telat sedikit maka saya tidak akan mendapatkan momen apapun disini yang dapat hanyalah segerombolan orang-orang. Sebenarnya ada saja lokasi yang enak yaitu berdiri di atas pos pantaunya hehe. Jadi beberapa pemandangan bisa terlihat dari atas sana.

Tips ke Tebing Keraton

Sekarang ke Tebing Keraton sudah banyak cara yang bisa digunakan. Kamu bisa menggunakan ojek online untuk bisa sampai ke dekat pintu gerbang, tapi kalau menggunakan mobil sayangnya lokasi parkirnya sangat jauh dari pintu masuk Tebing Keraton jadi akan lebih praktis jika menggunakan sepeda motor. Tidak perlu khawatir kesasar saat menuju Tebing Keraton karena lokasinya sudah tertera di Google Maps dan bisa langsung mengikuti jalur sesuai direction awal yang kamu pilih.





Saturday, September 21, 2019

September 21, 2019

Tenggelam dalam Suasana Pulau Tangkil di Lampung !

Pulau Tangkil, Lampung


Setelah sekian lama menanti dan menyusun rencana tibalah saatnya saya menginjakan kaki di Pulau Sumatera. Tujuan pertama adalah Lampung. Katanya disana banyak sekali tempat-tempat yang sangat indah dan tidak jauh dengan keindahan di Indonesia bagian timur. Walaupun perjalanan ini sangatlah singkat namun kurasa sudah cukup untuk menikmati pesona Lampung yang kaya akan pemandangan bahkan hingga mengingatkan saya dengan indahnya pantai berpasir putih di Lombok

Sesampainya di Lampung saya langsung berencana untuk ke Pantai Mutun. Pantai ini benar-benar sangat indah dan enaknya lagi cukup dekat dengan Bandar Lampung. Karakteristik pantai ini bisa dibilang mengingatkan saya saat ke Lombok tahun lalu. Lautnya yang berwarna biru, pasirnya yang putih dan ombaknya yang bersahabat sehingga bisa berenang sepuasnya di pantai ini. Namun sayangnya rencana tidak sesuai ekspektasi, ternyata ada pulau di seberang Pantai Mutun yang jauh lebih indah jika kita bisa menyeberanginya namanya Pulau Tangkil. Pulau Tangkil ini memang benar-benar pulau yang sangat indah, bahkan ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya saya terkagum dengan keindahannya yang mirip dan membawa saya pada kenangan saat di Lombok. Ah sungguh keren!!

pulau tangkil

Hayo, buat kamu yang beach lover pastinya Lampung boleh dong dijadikan sebagai destinasi untuk mantai! Lampung tidak kalah indah pemandangannya dengan Pulau Bali dan Lombok loh. Saya pun sendiri menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati keindahan pulau di seberang Pantai Mutun ini. 

Sebelumnya saat memasuki area Pantai Mutun ini akan dikenakan biaya sekitar 10-20ribu per orangnya. Kalau ingin ke Pulau Tangkil kamu pun bisa menggunakan jasa perahu yang perorangnya sekitar 50ribu untuk perjalanan pulang pergi dari dan ke Pulau Tangkil. Selain itu di Pulau Tangkil kamu bisa saja mencoba Snorkeling, Jetsky, Kano Flaying Fish atau bahkan Parasailing. Wow! atraksinya memang banyak di pulau ini. Namun sayangnya karena waktu saya tidak banyak jadi tidak bisa menikmati berbagai atraksi di pulau ini walaupun sebenarnya ingin sekali mencoba snorkeling di pantai ini. Siapa yang tidak mau snorkeling dengan laut biru dan pasir putih disini ? ah sayang sekali mungkin next time saya harus coba ketika liburnya panjang (berharap sih ga begitu ramai) hehehe.

Memandangi lautan yang biru dengan pemandangan hijaunya bebukitan dan menginjak pasir putih ini membuat saya tenggelam dalam suasana pantai. Bahkan pernah saya menyanyikan lagu dari penyanyi favorit saya Monita Tahalea dengan lagunya yang berjudul Memulai Kembali dan ah! seketika saya sudah membayangkan kalau perjalanan ini berkesan sekali walaupun hanya dalam waktu sempit. Tetapi sesempit-sempitnya waktu tetap harus memanfaatkan setiap detik di pantai ini, ya! harus dinikmati!! 


Ada cerita yang belum saya ceritakan. Ini saat menyeberang dari Pantai Mutun ke Pulau Tangkil. Dari pantai lautan terlihat sangat tenang karena ombaknya tidak seperti di pantai selatan Pulau Jawa yang dengan kencangnya menghantam bibir pantai. Memang di letak Pantai Mutun ini berada di sebuah teluk jadi tidak berhadapan langsung dengan Samudera. Lantas saya tenang saja saat mulai menyeberang dan menuju Pulau Tangkil. Namun ketika sudah berada di tengah-tengah gelombang terasa sangat kencang dan perahu yang saya naiki pun seperti terombang-ambing. Duh ! bawa barang yang isinya laptop kantor jelas bikin jantung saya deg-degan "bagaiman kalau perahu ini terbalik" ah saya sudah mikir kemana-mana karena takutnya. Well! walaupun bisa berenang tapi tetap saja yang dipikirkan adalah isi dari barang bawaan hmm.. Ini kali pertamanya saya bawa barang berharga ketika traveling seperti ini. Untungnya tidak apa-apa sampai kembali ke Pantai Mutun lagi, oh syukurlah detik-detik yang mendebarkan. Tapi semuanya terbayar dengan segala keindahan Pulau Tangkil, percayalah ! 


Lokasi : 
Pulau Tangkil, Sukajaya Lempasing, Padang Cermin, Pesawaran Regency, Lampung, Indonesia

Tuesday, September 17, 2019

September 17, 2019

Menyebrangi Selat Sunda di Tengah Malam Menuju Lampung

Traveling bukan soal tentang tujuan namun bagaimana proses perjalanan itu berlangsung
Selat Sunda di Tengah Malam

Ya! saya selalu suka dengan quotes di atas sebagai bukti bahwa kalau proses perjalanan adalah yang paling menyenangkan untuk beberapa orang. Jum'at minggu lalu akhirnya saya bisa berangkat menuju Lampung dengan menggunakan bus dari Kota Bandung. Sudah banyak rencana yang disusun, akan tetapi selalu saja ada yang membuatnya berantakan. Bicara soal traveling ke Lampung memakai bus dengan otomatis saya harus menyeberangi gelapnya Selat Sunda karena perjalananku dari Bandung berangkat dari jam 19:00. Dalam perjalanan Bandung ke Merak seperti biasa tidak ada yang spesial dari perjalanan malam selain tidur di kursi bus royal class dan memandangi lampu-lampu yang ada di luar jendela busku.

Perjalananku akan ditempuh selama 9 jam lamanya, itu pun kalau tidak ada kendala seperti macet. Maka dari itu saya lebih baik tidur saja. Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya saya terbangun dan sudah melihat gerbang tol Cilegon, waduh! berarti sebentar lagi saya akan tiba di pelabuhan Merak, Banten. Inilah saatnya ! menyeberangi Selat Sunda selama 2 jam lamanya. Bus menunggu untuk kapal berikutnya yang akan mengantar saya ke Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Ada beberapa aturan dan tips saat akan menaiki kapal

Aturan
1. Penumpang dilarang berada di dalam bus selama di atas kapal guna keselamatan.
2. Mesin kendaraan harus dalam kondisi mati.
3. Penumpang disarankan untuk menempati tempat duduk yang disediakan.

Tips
1. Untuk menghindari kehilangan, sebaiknya jangan menyimpan barang berharga di dalam bus selama menyebrang.
2. Karena menyebrangi Selat Sunda itu cukup memakan waktu, lebih baik digunakan untuk istirahat.
3. Awas kena tagih saat duduk di tikar! lebih baik jangan duduk lesehan ditikar kalau tidak mau ditagih untuk bayar hehe.
4. Sesekali ke deck untuk menikmati lautan sekaligus biar ga jenuh.

Waktu menunjukkan pukul 02:00 dini hari saat itu saya tengah menyebrangi Selat Sunda. Entah mengapa duduk di area penumpang membuat saya jauh lebih jenuh daripada saya berdiri memandangi gelapnya lautan dengan hembusan angin malam yang kencang. Uh disini rasanya seperti di film film gitu sehingga terbawa suasana. Untungnya malam itu langit cerah dengan sinar bulan menyinari permukaan laut, jelas momen ini lebih saya nikmati walau dinginnya angin malam di tengah lautan berhembus dengan kencangnya! Disini saya mendapatkan pengalaman tentang mengarungi lautan pada tengah malam walaupun ombak berderu dengan derasnya menghantam kapal namun untungnya saya tidak mabok! hahaha.

Saya heran kapal ini bisa saja lebih cepat sampai di Pelabuhan Bakauheni. Namun apa daya karena jalur pelayaran ini sangat padat, lantas kapal-kapal pun akan mengantre untuk bersandar di dermaga. Saat mengantre pun kapal yang saya naiki menunggu dengan sangat lama bahkan kukira kapal ini akan membawa saya ke dermaga lain atau mengelilingi pulau di dekat pelabuhan Bakauheni hmmm. Untungnya saya suka lautan jadi seberapa lama pun tidak akan membuat saya bosan memandangi kosongnya lautan seperti hati ini! #jomblo !!

Beberapa saat lagi bakal sampai nih di pelabuhan ditandai dengan pemandangan Menara Siger yang khas ketika sampai di Lampung setelah kapal ini menunggu dengan lamanya di tengah lautan! Hmm sayangnya saya sampai saat malam hari jadi tidak bisa melihat menara itu dengan tampak jelas. Sayang sekali, kalau siang pasti indah banget. Waktu menunjukkan pukul 04:00 dan kapal pun sudah bersandar di dermaga, kini saatnya melanjutkan perjalanan ke Bandar Lampung dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 45 menit. Waktunya kembali tidur karena perjalanan masih cukup jauh ! 

Thursday, September 12, 2019

September 12, 2019

Ini Ceritaku ! Ngantor, Ngerjain Laporan dan Traveling !

Ngantor dan Traveling


Pekerjaan yang super sibuk, cuti sedikit dan belum lagi dikejar deadline, ini sudah pasti bakal bikin stres dan akhirnya malah ga fokus di pekerjaan. Wah kalau sudah ga fokus bakalan mempengaruhi produktivitas dong ! karena itulah saya selalu traveling walaupun di akhir pekan dan mepet mepet. Ini demi konsentrasi dan pikiran kembali fresh! 
Ini bulan ke 8 saya memulai bekerja di sebuah kantor. Tentu hari-hari saya lewati dengan duduk seharian memandangi laptop dan bikin pegal. Menjalani rutinitas yang selalu sama setiap harinya, bagi saya ini adalah hal yang paling berat karena terbiasa dengan kebebasan dan pekerjaan pun di luar passion. Namun apa daya, kalau traveling otomatis membutuhkan uang yang tidak sedikit bukan ? maka dari itu mau tidak mau harus dijalani apapun pekerjaan demi TRAVELING ! 

Terkadang banyak temanku selalu bilang

"traveling cuma hari aja ? emangnya puas"
"ya mau gimana lagi, disini cutiku sangat sedikit, jadi satu-satunya waktu yang pas adalah weekend"
"bersabarlah"
"shiaap!" :')"

ya itulah selama saya traveling dengan waktu dari jum'at sampai minggu dan besoknya bekerja kembali. Seperti sebuah kebutuhan traveling itu. Ya sesibuk apapun sebenarnya passion harus tetap dijalani, hitung-hitung investasi untuk blog ini kedepannya. 

Sebagai tukang jalan-jalan sebenarnya traveling itu hampir sama kaya kebutuhan, karena kalau ga traveling entah apa yang akan terjadi sama diri saya hahaha. Jadi sebenarnya ga ada alasan untuk ga traveling walaupun cutinya sangat sedikit. 

Traveling sambil ngerjain Laporan!!

Inilah saya yang selalu ngerjain laporan dan harus dikirim setiap hari sabtu. Duh semakin padat saja pekerjaan saya dan semakin sedikit juga waktu yang ada buat traveling. Padahal ini harta saya satu-satunya di akhir pekan. hmm  tapi lagi-lagi gue punya jalan yaitu bangun subuh di sabtu pagi dan langsung kerjain laporan sebelum berangkat. Kalau misal pun harus berangkat hari jum'at ya terpaksa saya bawa laptop kantor buat lanjutin laporan saya yang harus dikirim dengan tepat waktu. Sebenarnya agak takut bawa laptop kantor pas traveling, takutnya rusak atau bahkan (amit-amit) hilang kan bahaya banget. Tapi bawa laptop kantor hanya ketika perjalanan dimulai pas hari jum'at kok, kalau misal berangkat sabtu siang atau malam ya nggak bakalan bawa laptop. 

Jadi prinsip saya, mau sependek apapun waktu sesekali traveling itu harus. Jika tidak maka gejala kurang piknik saya akan semakin bertambah parah hahahaha ;)

Sunday, August 18, 2019

August 18, 2019

Gombong Kota Wisata - Waduk Sempor

Waduk Sempor di Gombong


Menempuh perjalanan selama 7 jam dengan kereta api Kutojaya Selatan yang membawaku dari Bandung akhirnya tiba di Gombong. Suasana di kala itu masih sangat sepi dan hanya beberapa orang saja yang terlihat beraktivitas di waktu menjelang subuh. Banyak hal yang bisa membawaku hingga ke Gombong, mulai dari jenuh karena pekerjaan di kantor, butuh liburan, butuh ide buat nulis atau memang sekedar traveling. Ga usahlah kita terlalu sibuk dengan kerjaan kantor, kalau gitu mari jalan-jalan!

Minggu pagi, enaknya kemana dulu yah sebelum ke tempat-tempat lainnya di Gombong? ah sudah saya putuskan akhirnya untuk pergi ke Danau Sempor. Katanya sih kalau di minggu pagi di sini orang-orang banyak berkunjung untuk bersantai, jogging atau menikmati tempe mendoan. Wah tempe mendoan ? enak banget tuh!

Perjalanan dari Stasiun Gombong menuju Danau Sempor terbilang mudah sekali. Kamu bisa menggunakan angkot dari terminal Gombong untuk tujuan Sempor atau menggunakan ojek online. Waktu itu saya memilih menggunakan ojek online saja karena waktu jalan-jalan di Gombong tidak sampai setengah hari. Waduh! semua waktu yang ada harus dimanfaatkan, kalau gitu langsung cus ke Waduk Sempor.

Naik ojek online di kala langit masih gelap rasanya adem banget apalagi suasana Gombong yang terbilang sepi. Membuat rasanya seperti balik kampung. Percaya deh!
Saya sampai di Waduk Sempor tiba sebelum matahari terbit. Saya rasa bakalan sepi banget disini, tapi ternyata tidak banyak orang-orang sekitar di sini dan warung-warung yang buka untuk menyiapkan dagangannya.

Melihat danau yang surut akibat musim kemarau panjang, saya rasa danau ini tetap memberikan pemandangannya yang menarik walaupun kata orang sekitar kedalamannya kalau musim hujan bisa mencapai pesisir dimana saya berdiri disini. Wauw! 

Waduk Sempor di Gombong

Mengikuti jalan di sisi waduk ini, hingga akhirnya saya sampai di sini (apa ya namanya ?) pokoknya disini pemandangan bisa lebih dinikmati karena posisinya yang tingga hingga danaunya terasa seperti sangat luas. Coba kalau pagi itu cuaca cerah pasti saya bisa lihat indahnya matahari terbit disini namun sayangnya langit Gombong mendung sejak saya tiba.
Waduk Sempor di Gombong

Waduk Sempor di Gombong

Ngomong-ngomong sudah jalan sejak sebelum matahari terbit, tentunya perut ini butuh diberi asupan makanan lezat hehe. Tapi jangan khawatir kalau di Waduk Sempor ga ada makanan, di sini hampir banyak warung-warung di setiap langkah kaki. Tentunya yang menjajakan Tempe Mendoan pun banyak di Ngapak Area hehehe.

Menikmati Tempe Mendoan hangat dengan memandangi Waduk Sempor tentunya menjadi kenikmatan tersendiri. Sebab selain murah meriah dengan harga 1 porsi Mendoan yaitu Rp 4000 sudah mbikin perut kenyang kok. Memang kalau sedang traveling ke Jawa Tengah tuh makanan serba murah dan enak pula. Ini yang membuat saya tidak khawatir soal budget ketika traveling ke Jawa Tengah. Selamat makan gaes! 

tempe mendoan

Tonton yuk Travel Videonya



Wednesday, August 7, 2019

August 07, 2019

Keindahan Pantai Puncak Guha dari Garut Selatan

pantai puncak guha
Pantai Puncak Guha. Source : Dokumen Pribadi

Mengingat tentang Garut Selatan tentunya juga teringat dengan keindahan alamnya yang asri dan hijau hingga dijuluki sebagai Swiss van Java. Siapa sangka ? Garut Selatan tidak hanya menyuguhkan berbagai keindahan alam seperti pegunungan dan hijaunya alam, namun Garut Selatan pun memiliki berbagai pantai indah yang mungkin membuat kamu kagum yang salah satunya adalah pantai Puncak Guha.

Puncak Guha ini merupakan salah satu pantai di Garut Selatan yang berdekatan dengan pantai Rancabuaya dan berlokasi di Sinarjaya, Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pantai Puncak Guha ini memang tidak seperti pantai seperti biasanya yang memiliki hamparan pasir atau pun garis pantai yang panjang. Puncak Guha sendiri berada seperti di atas sebuah tebing, tidak heran kalau angin di lokasi ini berhembus dengan kencangnya. Selain itu Pantai Puncak Guha memiliki Goa di bawahnya dan Goa tersebut merupakan tempat tinggal bagi para kelelawar gua.

Melihat karakteristik dari pantai Puncak Guha, terlihat sekilas seperti di Bukit Merese jika melihat di sisi barat Puncak Guha, hanya saja perbedaannya jika Bukit Merese memiliki barisan bebukitan disertai dengan hamparan rumput yang sangat luas, etapi Puncak Guha hanya sebatas hamparan rerumputan di sekitarnya dan juga tidak memiliki garis pantai yang begitu panjang. Puncak Guha ini akan terlihat jauh lebih indah jika mengunjunginya pada musim kemarau. Sebab semua pesonanya akan terlihat sangat indah dengan birunya lautan dan birunya langit sehingga membuat pemandangannya akan sangat kontras.  

pantai puncak guha
Pantai Puncak Guha. Source: Dokumen Pribadi

Puncak Guha sendiri memiliki daya tarik sebagai spot foto selfie yang mempesona dengan pemandangan yang begitu indah dan kita berada di ujung tebing yang menjorok ke pantai yang berhadapan langsung dengan samudra Hindia, deburan gulungan ombak serta hamparan rumput hijau yang menghiasi pemandangan Puncak Guha dan bagi para pemburu sunset Puncak Guha pun memiliki panorama sunset yang sangat indah. Selain itu, Puncak Guha sendiri pun bisa menjadi lokasi untuk camping  di sisi lautan, tidak sedikit wisatawan yang berminat untuk menikmati pesonanya sambil berkemah disini. Walaupun angin berhembus dengan kencangnya di Puncak Guha tetapi itu tidak menjadi halangan untuk menikmati pesona Garut Selatan melalui pantai Puncak Guha.  Satu hal lagi yang paling menarik dari Puncak Guha adalah pesonanya yang indah sehingga pantai ini pernah terekspos oleh penulis novel Dewi Lestari di karyanya yang berjudul Perahu Kertas.

Lalu bagaimana caranya untuk menuju ke pantai Puncak Guha? Kamu bisa ambil akses termudah dan terdekat melalui jalur Bandung - Rancabuaya via Pangalengan. Selain itu jalur Pangalengan pun bisa menjadi salah satu akses yang menambah kepuasan untuk bisa menikmati keindahan sepanjang jalan dimulai dari Pangalengan hingga Garut Selatan. Untuk kondisi jalan di jalur Pangalengan – Rancabuaya pun sudah cukup mulus, hanya saja kamu tetap harus berhati-hati ketika menghadapi turunan dan tanjakan yang cukup terjal selama dalam perjalanan.

Fasilitas yang ada di Pantai Puncak Guha terbilang sudah cukup memadai dengan adanya warung-warung dan toilet serta lahan parkir yang memungkinkan untuk dimasuki mobil. Sebelum memasuki area Pantai Puncak Guha akan ada biaya tiket masuk sebesar Rp 5000 untuk per orangnya, biaya tiket masuk tersebut belum termasuk dengan biaya parkir yang dikelola sendiri oleh Pemuda Karang Taruna Desa Setempat. Dengan biaya tiket masuk yang sangat terjangkau kamu sudah bisa menikmati berbagai panorama dan keindahan Pantai Puncak Guha sejauh mata memandang.